Definisi Anemia dan Jenis - Jenis Anemia
A. Pengertian Anemia
Anemia lebih dikenal masyarakat sebagai penyakit
kurang darah. Penyakit ini rentan dialami pada semua siklus kehidupan (balita,
remaja, dewasa, bumil, busui, dan manula).
Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
rendahnya konsentrasi hemoglobin (Hb) atau hematokrit berdasarkan nilai ambang
batas (referensi) yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah merah
(eritrosit) dan Hb, meningkatnya kerusakan eritrosit (hemolisis), atau
kehilangan darah yang berlebihan.
B. Pengertian Anemia menurut WHO
Berdasarkan WHO (1 992) pengertian anemia adalah suatu
keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal untuk kelompok
orang yang bersangkutan. Anemia secara laboratorik yaitu keadaan apabila
terjadi penurunan di bawah normal kadar hemoglobin, hitung jenis eritrosit dan
hemotokrit (packedredcell).
C. Pengertian Anemia menurut para ahli
1.
Menurut Tarwoto “2007”
Anemia ialah kondisi berkurangnya sel darah merah “eritosit dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin, sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan.
Anemia ialah kondisi berkurangnya sel darah merah “eritosit dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin, sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan.
2.
Menurut Bakta “2006”
Anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer oleh penurunan kadar hemoglobin.
Anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer oleh penurunan kadar hemoglobin.
3.
Menurut Arisman “2007”
Anemia merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal. Anemia terjadi sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut.
Anemia merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal. Anemia terjadi sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut.
4.
Menurut Budiyanto “2002”
Anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah “eritrosit” seseorang, Anemia dapat terjadi karena kurangnya hemoglobin yang berarti juga minimnya oksigen ke seluruh tubuh.
Anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah “eritrosit” seseorang, Anemia dapat terjadi karena kurangnya hemoglobin yang berarti juga minimnya oksigen ke seluruh tubuh.
D.
Jenis - Jenis Anemia
Ada dua tipe anemia yang
dikenal selama ini yaitu anemia gizi dan non-gizi.
1. Anemia
gizi
a. Anemia gizi besi.
a. Anemia gizi besi.
Kekurangan
pasokan zat gizi besi (Fe) yang merupakan inti molekul hemoglobin sebagai unsur
utama sel darah merah. Akibat anemia gizi besi terjadi pengecilan ukuran
hemoglobin, kandungan hemoglobin rendah, serta pengurangan jumlah sel darah
merah. Anemia zat besi biasanya ditandai dengan menurunnya kadar Hb total di
bawah nilai normal (hipokromia) dan ukuran sel darah merah lebih kecil dari
normal (mikrositosis).
Tanda-tanda
ini biasanya akan menggangu metabolisme energi yang dapat menurunkan
produktivitas.Serum ferritin merupakan petunjuk kadar cadangan besi dalam
tubuh. Pemeriksaan kadar serum ferritin sudah rutin dikerjakan untuk
menentukan diagnosis defisiensi besi, karena terbukti bahwa kadar serum
ferritin sebagai indikator paling dini menurun pada keadaan bila cadangan besi
menurun.
Dalam
keadaan infeksi kadarnya dipengaruhi, sehingga dapat mengganggu interpretasi
keadaan sesungguhnya.Pemeriksaan kadar serum feritin terbukti sebagai indikator
paling dini, yaitu menurun pada keadaan cadangan besi tubuh menurun.
Pemeriksaannya dapat dilakukan dengan metode immunoradiometric assay (IRMA) dan
enzyme linked immunosorbent assay (ELISA).
Ambang
batas atau cut off kadar feritin sangat bervariasi bergantung metode cara
memeriksa yang digunakan atau ketentuan hasil penelitian di suatu wilayah
tertentu.
Anemia
gizi besi terjadi melalui beberapa tingkatan, yaitu :
1). Tingkatan pertama disebut “Anemia Kurang Besi Laten” merupakan keadaan
dimana banyaknya cadangan zat besi berkurang dibawah normal, namun besi di
dalam sel darah dan jaringan masih tetap normal.
2). Tingkatan kedua disebut “Anemia Kurang Besi Dini” merupakan keadaan dimana penurunan besi cadangan terus berlangsung sampai habis atau hampir habis, tetapi besi dalam sel darah merah dan jaringan masih tetap normal.
3). Tingkatan ketiga disebut “Anemia Kurang Besi Lanjut” merupakan perkembangan lebih lanjut dari anemia kurang besi dini, dimana besi di dalam sel darah merah sudah mengalami penurunan, tetapi besi di dalam jaringan tetap normal.
4). Tingkatan keempat disebut “Kurang Besi dalam Jaringan” yang terjadi setelah besi dalam jaringan yang berkurang.
2). Tingkatan kedua disebut “Anemia Kurang Besi Dini” merupakan keadaan dimana penurunan besi cadangan terus berlangsung sampai habis atau hampir habis, tetapi besi dalam sel darah merah dan jaringan masih tetap normal.
3). Tingkatan ketiga disebut “Anemia Kurang Besi Lanjut” merupakan perkembangan lebih lanjut dari anemia kurang besi dini, dimana besi di dalam sel darah merah sudah mengalami penurunan, tetapi besi di dalam jaringan tetap normal.
4). Tingkatan keempat disebut “Kurang Besi dalam Jaringan” yang terjadi setelah besi dalam jaringan yang berkurang.
b. Anemia gizi vitamin E.
Anemia defisiensi vitamin E dapat mengakibatkan integritas dinding sel
darah merah menjadi lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap
hemolisis (pecahnya sel darah merah). Karena vitamin E adalah faktor esensial
bagi integritas sel darah merah.
c. Anemia gizi asam folat.
c. Anemia gizi asam folat.
Anemia gizi asam folat disebut juga anemia megaloblastik atau makrositik;
dalam hal ini keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri-ciri
bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit dan belum matang. Penyebabnya adalah
kekurangan asam folat dan vitamin B12. Padahal kedua zat itu diperlukan dalam
pembentukan nukleoprotein untuk proses pematangan sel darah merah dalam sumsum
tulang.
d. Anemia gizi vitamin B12.
d. Anemia gizi vitamin B12.
Anemia ini disebut juga pernicious, keadaan dan gejalanya mirip dengan
anemia gizi asam folat. Namun, anemia jenis ini disertai gangguan pada sistem
alat pencernaan bagian dalam. Pada jenis yang kronis bisa merusak sel-sel otak
dan asam lemak menjadi tidak normal serta posisinya pada dinding sel jaringan
saraf berubah.
Dikhawatirkan, penderita akan mengalami gangguan kejiwaan. Vitamin ini
dikenal sebagai penjaga nafsu makan dan mencegah terjadinya anemia (kurang
darah) dengan membentuk sel darah merah. Karena peranannya dalam pembentukan sel,
defisiensi kobalamin bisa mengganggu pembentukan sel darah merah, sehingga
menimbulkan berkurangnya jumlah sel darah merah. Akibatnya, terjadi anemia.
Gejalanya meliputi kelelahan, kehilangan nafsu makan, diare, dan murung.
Defisiensi berat B12 potensial menyebabkan bentuk anemia fatal yang disebut
Pernicious anemia. Kebutuhan tubuh terhadap vitamin B12 sama pentingnya dengan
mineral besi. Vitamin B12 ini bersama-sama besi berfungsi sebagai bahan
pembentukan darah merah. Bahkan kekurangan vitamin ini tidak hanya memicu
anemia, melainkan dapat mengganggu sistem saraf.
Kekurangan vitamin B12 dapat terjadi karena gangguan dari dalam tubuh kita
sendiri atau sebab luar. Saluran cerna akan menyerap semua unsur gizi dalam
makanan, termasuk vitamin B12. Kekurangan vitamin B12 seseorang kurang darah
(anemia). ditandai dengan diare, lidah yang licin. Asam folat dapat diperoleh
dari daging, sayuran berwarna hijau, dan susu. Gizi buruk (malnutrisi)
merupakan penyebab utamanya.
e. Anemia gizi vitamin B6.
e. Anemia gizi vitamin B6.
Anemia ini disebut juga siderotic. Keadaannya mirip dengan anemia gizi
besi, namun bila darahnya diuji secara laboratoris, serum besinya normal.
Kekurangan vitamin B6 akan mengganggu sintesis (pembentukan) hemoglobin.
2. Anemia Non Gizi.
a. Anemia Sel Sabit.
Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease / sickle cell anemia) adalah suatu
penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit,
kaku, dan anemia hemolitik kronik. Pada penyakit sel sabit, sel darah merah
memiliki hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal,
sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel
menjadi seperti sabit. Sel yang berbentuk sabit akan menyumbat dan merusak
pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang, dan organ lainnya;
dan menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini
rapuh dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan
anemia berat,
penyumbatan aliran darah, kerusakan organ bahkan sampai pada kematian.
Sickle cell anemia (SCA) adalah penyakit genetik yang resesif, artinya
seseorang harus mewarisi dua gen pembawa penyakit ini dari kedua orangtuanya.
Hal inilah yang menyebabkan penyakit SCA jarang terjadi. Seseorang yang
hanya mewarisi satu gen tidak akan menunjukkan gejala dan hanya berperan
sebagai pembawa. Jika satu pihak orangtua mempunyai gen sickle cell anemia dan
yang lain merupakan pembawa, maka terdapat 50% kesempatan anaknya menderita
sickle cell anemia dan 50% kesempatan sebagai pembawa.
b. Talasemia .
Merupakan penyakit keturunan (genetik) dimana terjadi kelainan darah
(gangguan pembentukan sel darah merah). Sel darah merah sangat diperlukan untuk
mengangkut oksigen yang diperlukan oleh tubuh kita.Pada penderita talasemia
karena sel darah merahnya ada kerusakan (bentuknya tidak normal, cepat rusak,
kemampuan membawa oksigennya menurun) maka tubuh penderita talasemia akan
kekurangan oksigen, menjadi pucat, lemah, letih, sesak dan sangat membutuhkan
pertolongan yaitu pemberian transfusi darah. Bila tidak segera ditransfusi bisa
berakibat fatal, bisa meninggal.
c. Anemia Aplastik.
Anemia aplastik adalah suatu kelainan yang ditandai oleh pansitopenia pada
darah tepi dan penurunan selularitas sumsum tulang. Pada keadaan ini jumlah
sel-sel darah yang diproduksi tidak memadai. Penderita mengalami pansitopenia,
yaitu keadaan dimana terjadi kekurangan jumlah sel darah merah, sel darah
putih, dan trombosit.Anemia aplastik sering diakibatkan oleh radiasi dan
paparan bahan kimia. Akan tetapi, kebanyakan pasien penyebabnya adalah
idiopatik, yang berarti penyebabnya tidak diketahui.
Sangat menambah wawasan
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMemberi wawasanπ
BalasHapusSangat bermanfaat π
BalasHapusTerima kasih untuk informasi yang menarik dan bermanfaat .
BalasHapusTerima kasih , sangat bermanfaat
BalasHapusBagus, menambah wawasan. Mantap
BalasHapusNice
BalasHapusNice
BalasHapusMantap
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih atas info nya
BalasHapusInfonya sangat bermanfaat, terimakasih
BalasHapusalhamdulillah sangat bermanfaat :)
BalasHapusBermanfaat sekali kak:)
BalasHapusπππ
BalasHapus